Laporan PLS
Laporan Hasil Kunjungan
Pada
Hari Kamis tanggal 2 Maret 2017, SMA Negeri 2 Magelang melaksanakan progam
wajib tahunan sekolah, yaitu pembelajaran luar sekolah atau yang sering disebut
PLS. Tujuan dari pembelajaran ini untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.
Rencananya, SMA Negeri 2 Magelang akan berkunjung ke Museum Manusia Purba
Sangiran dan Museum Kars Pracimantoro.
Saat
itu, kami diminta oleh pihak sekolah untuk tiba di sekolah pada pukul 06.15 WIB
agar waktu tidak terulur dan tidak telat sampai di lokasi tujuan. Akhirnya,
kami memulai perjalanan pada sekitar pukul 07.00 WIB menuju lokasi pertama,
yaitu Museum Manusia Purba Sangiran. Diperjalanan, kami ditakjubkan oleh
pemandangan alam yang indah, seperti pegunungan dan perbukitan. Beberapa ada
yang mengalami mual, ada 2 kemungkinan yang menyebabkan mual, antara jarang
bepergian jauh dan kondisi jalan yang tidak stabil.
Pukul
11.14 WIB kami tiba di Museum Manusia Purba Sangiran dan kami mengellilingi
museum serta mengamati apa yang ada di dalamnya. Museum Manusia Purba Sangiran
adalah sebuah situs arkeologi di Jawa, Indonesia. Area ini memiliki luas 48 km²
dan terletak di Jawa Tengah, 15 kilometer sebelah utara Surakarta di lembah
Sungai Bengawan Solo dan terletak di kaki Gunung Lawu. Secara administratif
Sangiran terletak di Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah.
Pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar budaya. Pada tahun 1996 situs ini terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO. Tahun 1934 antropolog Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald memulai penelitian di area tersebut. Pada tahun-tahun berikutnya, hasil penggalian menemukan fosil dari nenek moyang manusia pertama, Pithecanthropus erectus ("Manusia Jawa"). Ada sekitar 60 lebih fosil lainnya di antaranya fosil Meganthropus palaeojavanicus telah ditemukan di situs tersebut. Di Museum Sangiran, yang terletak di wilayah ini juga, dipaparkan sejarah manusia purba sejak sekitar 2 juta tahun yang lalu hingga 200.000 tahun yang lalu, yaitu dari kala Pliosen akhir hingga akhir Pleistosen tengah. Di museum ini terdapat 13.086 koleksi fosil manusia purba dan merupakan situs manusia purba berdiri tegak yang terlengkap di Asia. Selain itu juga dapat ditemukan fosil hewan bertulang belakang, fosil binatang air, batuan, fosil tumbuhan laut serta alat-alat batu.
Pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar budaya. Pada tahun 1996 situs ini terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO. Tahun 1934 antropolog Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald memulai penelitian di area tersebut. Pada tahun-tahun berikutnya, hasil penggalian menemukan fosil dari nenek moyang manusia pertama, Pithecanthropus erectus ("Manusia Jawa"). Ada sekitar 60 lebih fosil lainnya di antaranya fosil Meganthropus palaeojavanicus telah ditemukan di situs tersebut. Di Museum Sangiran, yang terletak di wilayah ini juga, dipaparkan sejarah manusia purba sejak sekitar 2 juta tahun yang lalu hingga 200.000 tahun yang lalu, yaitu dari kala Pliosen akhir hingga akhir Pleistosen tengah. Di museum ini terdapat 13.086 koleksi fosil manusia purba dan merupakan situs manusia purba berdiri tegak yang terlengkap di Asia. Selain itu juga dapat ditemukan fosil hewan bertulang belakang, fosil binatang air, batuan, fosil tumbuhan laut serta alat-alat batu.
Sebagian besar dari koleksi fosil
fosil yang terdapat di Museum Manusia Purba Sangiran tidak boleh disentuh, sebagian
lagi ada yang dilindungi oleh kaca. Akan tetapi, tidak semua fosil tidak dapat
disentuh, ada beberapa yang dapat disentuh, dan saya pun menyoba menyentuhnya
karena saya tidak ingin dihantui rasa penasaran.
Sepanjang perjalanan di dalam museum,
jika terdapat spot yang bagus untuk mengabadikan moment kami pun berfoto
sejenak. Salah satunya adalah spot foto ciri khas dari meseum tersebut.
Setelah selesai, kami melanjutkan
perjalanan menuju objek berikutnya, yaitu Museum Kars Pracimantoro. Seharusnya
pada pukul 16.00 WIB kita sudah tiba di objek tersebut, tetapi kami masih di
perjalanan. Museum tersebut sudah tutup, jadi kami mengalihkan objek menjadi ke
Pantai Baron. Kami tiba di Pantai Baron sekitar pukul 17.03 WIB. Di sana kami
menikmati pemandangan matahari tenggelam, bermain air, berfoto bersama, dan
bahkan ada yang bermain sepak bola.
Langit mulai gelap dan ombak menjadi tinggi,
kami disuruh untuk kembali ke area parkiran. Setelah itu, kami ganti pakaian
dan melaksanakan shalat maghrib. Seusai shalat maghrib kami melanjutkan perjalanan
ke kota tercinta, Kota Magelang. Masih di daerah Gunung Kidul, kami makan malam
bersama di tempat makan terdekat dengan Pantai Baron. Tiba di tempat makan
tersebut pada sekitar pukul 19.00 WIB. Sebelum kembali menuju ke Kota Magelang,
kami melaksanakan shalat isya di mushola tempat makan tersebut. Akhirnya pada
pukul 20.00 WIB, kami pulang menuju kota tercinta. Pada pukul 22.30 WIB, kami
tiba di gapura SMA Negeri 2 Magelang. Setelah itu kami pulang ke rumah masing
masing.
Terima kasih. Tulisan kurang besar, gunakan ukuran 14 insya Allah akan lebih manis. Penataan gambar masih bisa diperbaiki sehingga lebih menyatu dengan isi laporan.
BalasHapus